Multi Tasking

Saya yakin tentu semuanya sudah paham apa yang dimaksud dengan multi tasking. Multi tasking artinya melakukan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Istilah multi tasking banyak dipakai di pemrograman atau kalau kita belajar mikro prosesor dan operating sistem. Dulu sewaktu saya belajar mikroprosesor dan mikro kontroler, komputer sebenarnya tidak benar-benar melakukan banyak pekerjaan sekaligus, tetapi salah satu tekniknya adalah dengan digilir dengan kecepatan tinggi, jadi seolah-olah banyak pekerjaan yang dilakukan sekaligus. Kalau prosesor yang baru seperti dual core atau core 2 duo, saya belum baca detail, tapi kalau dilihat namanya sepertinye memang bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus karena core-nya lebih dari satu.

Sekarang kembali ke multi tasking pada manusia. Saya sejak kecil sangat menyukai melakukan banyak pekerjaan/aktivitas sekaligus. Saya merasa bangga dengan kemampuan itu. Saya biasa nonton tv, makan sambil baca koran sekaligus. Apalagi saya pernah dengar kalau Bung Karno pun adalah seorang yang punya kemampuan multi tasking. Tentu ini suatu model yang bagus untuk ditiru, begitu pikir saya.

Dulu sewaktu bekerja di Advanced Interconnect Technologies, production manager waktu itu, pak Subramaniam disuatu meeting pernah bilang ke para engineer. Dia bilang “you must do one task at a time, you can’t do everthing together”. Karena banyak hal yang mesti dikerjakan, bukan hal yang aneh kalau semuanya mesti dikerjakan bersama-sama. Saya waktu itu masih merasa multi tasking adalah hal yang wajar kita lakukan.

Beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di majalah Time yang berjudul How To Tune Up Your Brain. Saya masih ada copynya, tertanggal 23 Januari 2006. Kalau mau dicari di websitenya Time juga masih ada. Disana dijelaskan bagaimana alat-alat yang membantu pekerjaan kita seperti email dan handphone malah bisa mengacaukan konsentrasi kita. Ada suatu studi yang mengukur biaya yang mesti ditanggung oleh gangguan karena interupsi pekerjaan, Basex menghitung biayanya sebesar USD588 billion setahun. Multi tasking juga bisa menimbulkan akibat atention deficit disorder(ADD). Saya mulai percaya walaupun belum sepenuhnya.

Saya jadi teringat dengan kebiasaan istri saya. Dulu sewaktu masih pacaran, saya suka kesal kalau menelepon kadang tidak diangkat karena dia sedang mencuci atau mengepel. Kalau saya tanya, katanya nanti kalau berhenti maka pekerjaannya tidak akan selesai. Agak aneh ya, biasanya kan cewek yang lebih sering multi tasking, tapi ini malah terbalik.

Beberapa waktu kemudian saya membaca buku karangan Eknath Easwaran yang berjudul Climbing The Blue Mountain. Easwaran mengajarkan delapan langkah yang disebut dengan Eight Point Program, dimana langkah keempatnya adalah One Pointed Attention.
Di webnya ditulis :
“Everything you do should be worthy of your full attention. Doing more than one thing at a time divides attention and fragments consciousness. When you read and eat at the same time, for example, part of your mind is on what you are reading and part on what you are eating; you are not getting the most from either activity. Similarly, when talking with someone, give that person your full attention. These are not little things. Taken together they help to unify consciousness and deepen concentration.”

Setiap hal yang kamu lakukan layak memperoleh perhatianmu secara penuh. Melakukan lebih dari satu hal pada suatu waktu membagi perhatian dan memecah kesadaran. Misal ketika kamu makan dan membaca pada saat yang bersamaan, sebagian dari benakmu pada apa yang kamu baca dan bagian yang lain ada pada apa yang kamu makan, dan kamu tidak akan memperoleh yang terbaik dari kedua aktivitas tersebut. Sejenisnya, ketika kamu berbicara dengan seseorang, berikan perhatian penuh padanya. Hal ini bukanlah hal yang remeh. Hal ini dapat menolong menyatukan kesadaran dan meningkatkan konsentrasi.

Wah ternyata tokoh spiritual pun berbicara hal yang sama, begitu pikir saya pertama kali membaca tulisan ini. Saya memang belakangan ini merasa agak kesulitan konsentrasi. Belakangan saya membeli buku The New Pyscho-Cybernetics karangan Maxwell Maltz. Dibuku itu, pada bagian Lima Resep untuk membebaskan mesin kreatif anda, bagian yang ketiga adalah “Cobalah untuk melakukan satu hal setiap kalinya.”
Disana ditulis :
“Satu lagi penyebab kekacauan, serta perasaan gugup, tergesa-gesa, dan ceas, yang menyertainya adalah kebiasaan menggelikan berupa berusaha melakukan beberapa hal sekaligus. Seorang murid belajar sekaligus nonton TV. Seorang usahawan, bukannya berkonsentrasi pada dan hanya berusaha “mendiktekan” surat yang sedang didiktekannnya, juga memikirkan hal-hal yang seharusnya ia selesaikan hari itu, atau mungkin minggu itu, dan secara dibawah sadar secara mental berusaha menyelesaikannya sekaligus.”

Dibuku itu juga disarankan kita membeli sebuah jam pasir, untuk mengingatkan kita pada satu hal pada setiap waktu.

Saya benar-benar tidak punya argumentasi lagi untuk tetap melakukan multi tasking, tetapi mengubah kebiasaan bukanlah hal yang gampang. Yang penting saya mencoba melakukan satu hal pada setiap waktu. Saya bahkan beli sebuah jam pasir untuk saya letakkan diatas meja saya. Tapi sampai sekarang, hal yang paling sulit saya lakukan adalah makan tanpa melakukan aktivitas lainnya. Mungkin ini disebabkan karena saya tidak begitu suka makan, jadi saya ingin melewatkan saat makan itu dengan tanpa saya sadari dengan cara sambil melakukan aktivitas lainnya.

This entry was posted in Personal Development and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Multi Tasking

  1. Henny says:

    jadi loe nggak suka makan? walaaah….. gimana mau gendut.. pantesan dari dulu kurus mulu…. tapi tulisan ini bagus juga, hanya untuk multi tasking loe harus mengingat banyak buku… referensinya lumayan oke…

  2. GarykPatton says:

    Hello. I think the article is really interesting. I am even interested in reading more. How soon will you update your blog?

  3. darma says:

    artikel yang bagus

Leave a Reply