Sempoa menurut definisi wikipedia alat kuno untuk berhitung yang dibuat dari rangka kayu dengan sederetan poros berisi manik-manik yang bisa digeser-geserkan. Sempoa digunakan untuk melakukan operasi aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar kuadrat.

Belakangan ini ditengah masyarakat banyak berdiri kursus-kursus menggunakan sempoa. Beberapa tahun yang lalu, sebelum orang ramai membuat kursus sempoa dan juga belajar sempoa, saya juga sempat tertarik belajar sempoa. Salah satu alasannya adalah karena kecepatan menghitung saya tidak begitu baik dan saya mendengar kalau sempoa bisa mempercepat kemampuan menghitung kita. Bahkan kalau kita sudah mahir, tidak perlu membawa sempoa kemana-mana, cukup dibayangkan dipikiran saja.

Saya kemudian membeli sempoa plastik dan juga buku belajar sempoa. Waktu itu saya memang belum cukup dalam mempelajari sempoa, tapi sudah bisa menggunakan sempoa untuk melakukan operasi penambahan dan pengurangan tanpa perlu menggunakan sempoa secara fisik, cukup dibayangkan dipikiran saja.

Belakangan saya membeli buku tentang pemenang nobel fisika, Richard Feynman, yang kalau judul aslinya adalah ” Surely you’re joking, Mr . Feynman”, yang kemudian diterjemahkan menjadi Cerdas Jenaka cara Nobelis Fisika. Disalah satu cerita disana, diceritakan pada suatu saat Feynman ditantang untuk balapan menghitung oleh seorang Jepang, yang menjadi penjual sempoa.

Mula-mula penjumlahan, disini Feynman kalah sedikit. Orang itu kemudian ingin menunjukkan kemampuannya dengan menantang perkalian. Untuk perkalian Feynman juga kalah tidak begitu jauh. Orang itu minta adu pembagian dan kali-kalian yang panjang. Disini hasilnya seri. Orang itu tambah penasaran dan minta diadu akar pangkat tiga. Dia mau mengerjakan akar pangkat tiga dengan aritmetika.

Angka yang diberikan adalah 1729,03. Kebetulan Feynman tahu bahwa satu kaki kubik adalah 1,728 inci kubik. Jadi jawabannya pasti sedikit diatas 12. Orang itu penasaran bagiamana Feynman dapat menghitung lebih cepat dan lebih presisi. Kemudian Feynman berkata :

Aku mulai menjelaskan bahwa aku menggunakan pendekatan dan persentase kesalahan. Misalnya, anda memberi angka 29. Nah akar tiga dari 27 kan 3…..

Dia mengambil sempoanya: zzzzz______ ” Oh ya, katanya”.

Aku menyadari sesuatu: Dia tidak paham angka! Dengan sempoa, kita tidak perlu menghapalkan banyak kombinasi aritmetika; kita cuma perlu belajar menggerakkan butir-butir pada sempoa itu. Kita tidak perlu ingat bahwa 9+7=16; kita cuma perlu tahu bahwa waktu kita menambahkan sembilan, kita memindahkan biji sempoa untuk angka sepuluh naikdan satu biji satuan turun. Jadi kalau soal aritmetika dasar, kita lebih lambat, tapi kita paham tentang angka.

Saya menyadari kebenaran pendapat Feynman. Dengan menggunakan sempoa, kita bisa dibilang tidak perlu berpikir, yang kita perlu lakukan memindahkan biji biji sempoa, dan nanti tinggal membaca hasilnya sesuai dengan komposisi terakhir biji-biji sempoa.

Padahal kemampuan untuk menghitung dengan pendekatan, menurut pendapat saya, sangatlah penting. Dan kemampuan ini bisa menjadi hilang kalau kita terbiasa menggunakan sempoa. Jadi karena itu saya tidak tertarik lagi belajar sempoa.