Mana kata yang baku?

Beberapa hari yang lalu saya membeli buku karangan Imam Robandi yang berjudul becoming the winner : Riset, Menulis Ilmiah, Publikasi Ilmiah, dan Presentasi. Tujuannya jelas saja, saya ingin mencari referensi dan meningkatkan kemampuan menulis, khususnya menulis ilmiah.

Secara umum saya rasa bukunya bagus, apalagi penulisnya saya rasa adalah orang yang memang berkompeten dibidangnya, kalau dibaca pada bagian penulis yang ada dihalaman belakang buku.

Tapi ada hal yang membuat saya sedikit bingung, pemilihan kata-kata yang digunakannya. Ada kata-kata seperti kualiti, universiti, strateji yang saya rasa tidak baku.  Ada juga kata-kata yang tumben saya dengar seperti katapengawal(kata sambung?), dan beberapa hal sejenis lainnya.  Saya jadi berpikir, apakah sekarang memang sudah berubah, dan kata-kata tersebut yang menjadi kata yang baku. Soalnya ini kan buku yang mengajarkan tata tulis, tentunya hal-hal seperti pemilihan kata pasti menjadi sesuatu yang diperhatikan. Apalagi di bagian kata pengantar  ada ucapan terima kasih untuk Drs. Syamsul Sondiq, M Pd(Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya). Saya jadi dapat berasumsi kalau buku ini sudah diperiksa yang bersangkutan dari segi bahasa.

Saya coba memeriksa ke KBBI online, ternyata kata-kata seperti kualiti, universiti, strateji tidak ada disana. Setahu saya kata-kata tersebut lebih dekat ke bahasa melayu, kalau bahasa indonesia menyerapnya dengan cara yang berbeda. Kata-kata yang berakhiran -ty diserap ke bahasa indonesia menjadi berakhiran -tas.  Satu contoh umum dimasyarakat kata yang berakhiran -ty yang  diserap menjadi -ti adalah selebriti.

Jadi mana yang baku?

This entry was posted in Pribadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply