Solderku

Saya mulai belajar elektronika sejak kelas 1 SMP, kira-kira 24 tahun yang lalu. Yang namanya orang belajar elektronika, pasti tidak dipisahkan dari solder. Jadi awal saya belajar elektronika, saya dibelikan seperangkat peralatan oleh bapak saya(saya memanggilnya Aji, sebagaimana orang bali umumnya). Waktu itu saya dibelikan solder, multimeter kecil dan juga dudukan solder. Solder yang dibelikan waktu itu yang standar saja, tiga ribu kalo tidak salah harganya. Cuma ternyata solder itu tidak tahan lama, saya sempat beberapa kali ganti solder yang sejenis dan tetap saja rusak melulu.

Akhirnya saya minta dibelikan solder yang lebih bagus. Oleh ibu saya, kakak saya yg tertua diminta mengantarkan saya membelinya. Waktu itu saya sebenarnya pengen beli solder gun, kayaknya keren dan waktu itu kalo solder gun pasti solder bagus.

Tapi sampai di toko, penjualnya bilang, lebih enak pakai model biasa, kalo istilah resminya pen type. Akhirnya saya beli solder goot yang pen type.

Minggu lalu,  tadinya solder itu masih saya pakai, kemudian saya cabut karena ada urusan lain, pas saya colokkan kembali ternyata tidak mau panas. Saya mau coba buka untuk memeriksa elemennya, ternyata bagian dalamnya malah patah karena bagian logam solder sudah melekat dengan body bagian dalamnya.

Sebelumnya saya sudah merasa, solder ini tidak akan terlalu lama lagi bisa dipakai, karena baut untuk mengganti ujung solder sudah patah dan saya coba buka tidak bisa. Jadi umurnya paling lama sampai ujungnya rusak. Ternyata bukan ujung yang rusak yang membuat solder ini tidak bisa dipakai tetapi karena pemanasnya yang mati. Selama saya pakai, sekitar 24 tahun, solder ini sudah berkali-kali ganti elemen pemanas dan juga ujung solder.

Ada cerita menarik dengan solder ini sewaktu saya SMP. Tempat saya praktik elektronika colokan listriknya terbatas, jadi kita sering nebeng ke meja lain nyari colokan,  cuma kadang yg punya meja pas lagi perlu main copot saja. Jadinya pas mau pake, ini solder kok gak panas2?

Karena itu saya memodifikasi solder saya, yang pertama, supaya saya bisa nyolok listrik dimana saja, kabel solder saya ganti dengan kabel setrikaan dengan panjang 3 meter, yang kedua, supaya saya tau kalao solder saya dicabut, saya pasang lampu indikator didalam solder, jadi dari arah keluar kabel saya bisa lihat lampu indikator menyala yang berarti solder tersambung ke listrik 🙂

Kalau dipikir2 panjang juga ya umur solder saya ini, sampai sekitar 24 tahun saya pakai.

This entry was posted in Electronics, Pribadi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Solderku

  1. Rizki says:

    Wah, pengalaman yg menarik…Salam kenal ya mas.
    Kunjungi juga blog saya

    http://blog.unand.ac.id/rizki54/

  2. Steffani says:

    Itu cerita yang sangat bagus sekali dan menarik.Lain kali buat cerita yang lebih bagus ya

Leave a Reply